• Jelajahi

    Copyright © Ainews.co.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Recent Posts

    Iklan

    Benarkah istilah Lombok Pulau 1000 Masjid hanya dipopulerkan oleh sekelompok tertentu atau klaim tanpa dasar yang kuat.

    Senin, 24 Juli 2023, Juli 24, 2023 WIB Last Updated 2023-08-08T04:00:22Z

     

    Meskipun Julukan Pulau Seribu Masjid bagi Lombok ini bermula saat Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Effendi Zarkasih, sedang melakukan kunjungan kerja pada 1970. Selama kunjungan kerja yang dilakukan dalam rangka meresmikan Masjid Jami Cakranegara, Effendi merasa terkesan melihat banyaknya masjid yang berdiri di Pulau Lombok. Secara spontan ia menyebutkan bahwa Lombok adalah Pulau Seribu Masjid.

    Setelah ditelusuri, ternyata julukan ini memang sepadan dengan fakta yang ada. Berdasarkan catatan Taufan Hidjaz, seorang dosen dari Institut Teknologi Nasional, terdapat 3.767 masjid besar dan 5.184 masjid kecil yang tersebar di 518 desa di Pulau Lombok

    Apa Salah informasi: Bisa jadi ada kesalahan informasi atau kesalah pahaman yang menyebabkan julukan tersebut melekat pada pulau Lombok.

    Persebaran masjid: Lombok memiliki banyak masjid yang tersebar di berbagai wilayah dan kota di pulau itu. Mungkin ada klaim bahwa terdapat ribuan masjid di Lombok, tetapi klaim semacam itu harus divalidasi dengan data yang akurat.

    Budaya pluralisme: Pulau Lombok, seperti banyak wilayah di Indonesia, memiliki budaya yang kaya dan pluralistik. Masyarakatnya sangat toleran terhadap perbedaan agama, dan mungkin pulau ini dianggap sebagai simbol pluralisme agama karena jumlah masjid yang signifikan.

    Namun, penting untuk dicatat bahwa julukan "Pulau 1000 Masjid" sejauh ini tidak umum atau resmi untuk Lombok, dan mungkin lebih merupakan istilah yang dipopulerkan oleh sekelompok tertentu atau klaim tanpa dasar yang kuat. Jika ada informasi lebih lanjut atau pembaruan tentang hal istilah tersebut.

    Atau mungkin bias di bilang pulau Lombok populernya sebagai budaya pluralisme yaitu Budaya pluralisme merujuk pada kondisi sosial dan budaya di mana berbagai kelompok etnis, agama, budaya, dan keyakinan hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Ini mencerminkan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap keanekaragaman, dan penerimaan terhadap perbedaan di antara masyarakat.

    Beberapa ciri dari budaya pluralisme meliputi:

    Toleransi: Masyarakat yang pluralis cenderung memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, etnis, bahasa, dan kepercayaan. Mereka mengakui hak setiap individu atau kelompok untuk berbeda dan berpraktik sesuai keyakinan masing-masing.

    Keanekaragaman: Budaya pluralis merayakan keanekaragaman manusia dalam segala aspeknya, seperti bahasa, pakaian, makanan, seni, dan kepercayaan. Ini mencerminkan pandangan bahwa keberagaman adalah kekayaan dan aset bagi masyarakat.

    Dialog antaragama dan antarkelompok: Budaya pluralis mendorong dialog terbuka dan saling pengertian antara berbagai kelompok. Ini membantu mengurangi ketegangan dan mendorong kolaborasi yang bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

    Pengakuan hak asasi manusia: Masyarakat yang menganut pluralisme menghormati hak asasi manusia dan memastikan perlindungan hak-hak individu, terlepas dari latar belakang etnis, agama, atau kepercayaan mereka.

    Solidaritas sosial: Masyarakat yang pluralis cenderung mengembangkan rasa solidaritas dan persatuan, karena mereka memahami bahwa keberagaman mereka adalah kekuatan yang memperkaya masyarakat secara keseluruhan.

    Budaya pluralisme adalah nilai penting dalam masyarakat yang majemuk dan multikultural. Di lingkungan yang pluralis, warga merasa lebih diterima, aman, dan berkesempatan untuk berkontribusi pada kemajuan dan perkembangan masyarakat secara bersama-sama. Keberhasilan budaya pluralisme tergantung pada kesediaan individu dan kelompok untuk membuka pikiran, menghormati perbedaan, dan berusaha memahami perspektif orang lain.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini